“MENCARI JATI DIRI MELALUI BUDAYA”
Hai sobat, owh
iya! Perkenalkan nama saya Sakiyah,
biasa dipanggil kiya. saya berasal dari suku samawa tepatnya di Kebupaten Sumbawa Barat, Kecematan Taliwang, Kelurahan Menala. Kali ini saya sedikit bercerita mengenai
perjalanan saya dan teman saya. Kami melakukan suatu perjalanan ke suatu desa
untuk mempelajari kebudayaan suku sasak. Yang dimana suku sasak
itu sendiri merupakan suku yang berada di daerah Nusa Tengara Barat, dan
merupakan suku yang kaya akan sastra dan budaya. Salah satunya yang saya dengar
dari teman saya yang berasal dari suku sasak yaitu kebudayaan takepan. yang
dimana kebudayaan takepan ini merupakan naska kuno yang ditulis di atas daun
lontar dan dirangkai menjadi satu kesatuan dengan cara diikat di tengah. Pada saat saya mendengar sedikit penjelasan
mengenai takepan tersebut saya pun tertarik ingin mengatahui dan
mempelajarinya.
Pada hari minggu
tanggal 20 oktober 2019 saya dan teman saya melakukan sebuah perjalanan ke
salah satu perdesaan yang terdapat di Kebupaten
Lombok Barat, Kecamatan Lingsar desa Aik nyet. Yang merupakan
suatu desa yang masih kental dengat kebudayaNnya.
Disana kami bertemu dengan bapak Anas.
beliau sedikit menjelaskan tentang kebudayaan takepan.
Takepan
ini dijelaskan oleh bapak Annas yang berada di Desa selak, Kec. Nararmada
dengan minyak agar terlihat jelas. Dalam takepn-takepan
sasak terdapat bermacam-macam tulisan.
ada yang di ceritakan hakikat cukur, ada yang dikatakan bang bari dan ada juga dikatakan marfum dan banyak lagi
takapan-takapan lainnya.
Takepan yang dahulu memakai Ha, Na, Ca, Ra, Ka atau
bahasa kawi kemudian yang sekarang di pindah dalam bentuk latin. Takapan aslinya disimpan dan salinanya
digunakan untuk belajar. Brhubung beliau baru belajar takapan-takapan tersebut
maka beliau mengajak kami untuk bertemu dengan gurunya langsung untuk mengatahuinya lebih dalam lagi.
Tiba kami disana
kamipun disambut dengan ramah oleh sebagian penduduk yang ada disana. Disana kami pun bertemu
langsung dengan dalangnya beliau bernama Sukardi. Beliau merupakan
salah stu tokoh yang masih mempelajari takepan-takepan. Pertama kali beliau
mempelajari takepan-takepan tersebut pada tahun 1968. Adapun alasan beliau mempertahankan takapan-takapan
tersebut karena menurut beliau cuman budaya yang bisa mengangkat nama negara
atau nama daerah, Pembayung merupakan penyelsaian adat sasak. Pem artinya
di percaya dan yun artinya didepan. Jadi pembayun itu diartikan dipercaya didepan. Adapun kebudayaan suku sasak yang biasa di
gunakanpada acara adat istiadat ada 4
yaitu: yang pertama Nurisa akikah, kedua
kawin atau merarik,ketiga Nyunatan atau khiatan dan yang terakhir perase.
Agama,
adat, dan budaya biarpun tidak menyatu, tetapi dipersatukan dalam satu tempat. Setiap
ada takepan pasti ada pembukaan temkbangnya, yang dimana tembanng ini berisi
tentang pemujaan pemujaan terhadap sang kuasa.
Dalam adat sasak Terdapat
tujuh tembang yang bisa ditembangkan oleh suku sasak. Yang pertama, tembang
Asmarandane,
kedua, tembang sinom. Yang ketiga, tembang dangdang. Keempat tembang pangkur.
Ke lima, tembang durma. Keenam gangan dan
terakhir tembang ginanti. Setiap
takepan diatas ada pengaruh tembangnya. Salah satunya tembang asmirandane.
Dalam adat sasak ada yang namanya sorong
serah. Yang dimana sorong serah ini merupakan
pengantin laki-laki menuju
kerumah pihak wanita yang merupakan adat terakihir yang dilakukan sebelum
melakukan nyongkolan. Jika wanita sudah menika maka istri merupakan tanggung
jawab suami sudah bukan tangung jawab orang tua lagi.
Mungkin
hanya ini yang dapat saya ceritakan, semoga bermamfaat bagi kita semua. Jangan
lupa like dan Comen yaJ
Tunggu
tulisan selanjutnya yah guys…..


